SEKILAS INFO

     » MADIUN GEMAR MEMBACA DAN TERTIB ARSIP 2018      » SEGALA BENTUK LAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN MADIUN GRATIS      » SELANGKAH KE PERPUSTAKAAN SEJUTA PENGETAHUAN      » SELAMAT DATANG DI WEBSITE KANTOR PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN MADIUN
Jumat, 30 Januari 2015 - 12:28:52 WIB
Menghidupkan Lagi Peran Dongeng

Diposting oleh : Administrator
Kategori: skpd - Dibaca: 747 kali

NUSANTARA BERTUTUR

(diambil dari Harian Kompas, Senin 26 Januari 2014)

 

Menghidupkan Lagi Peran Dongeng

Anak-anak tertawa senang mendengar  cerita dengan boneka binatang yang digerakkan anggota Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusian. Kegembiraan bersama ini hadir di Festival Nusantara Bertutur di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu (21/1).

Pendongeng Gerakan Para Pendogeng untuk Kemanusiaan (GePPuK) yang menggendong boneka gorila mengajak anak-anak bernyanyi. Anak-anak dengan keceriaannya bersemangan menyanyi, seperti lagu “Ayo Sekolah”. Tiap cerita pasti punya pesan moral bagi anak-anak.

Sebanyak 2.200 anak dari 40 sekolah memeriahkan Festival Nusantara Bertutur yang mengajak anak-anak mencintai budaya Indonesia. Selain bisa menikmati dongeng, anak-anka juga bisa menjajal permainan tradisional yang dibawa komunitas Hong dari Bandung. Permainan seru yang disediakan antara lain bedil bambu, lempar karet, dan congklak. Saat anak-anak mencoba permainan, suasana menjadi seru. Beberapa dari mereka penasaran dengan bedil bambu sampai mencoba menembak dengan peluru buah leunca.

Saat ini, berbagai elemen masyarakat berusaha menumbuhkan kembali karakter baik bangsa Indonesia lewat dongeng. Salah satunya adalah Nusantara Bertutur  yang, antara lain, menampilkan dongeng harian Kompas setiap hari Minggu.

Kisah berjudul Rino Si Badak Jawa, misalnya. Di sini penulisnya, Yudi Suharso, berkisah tentang persahabatan Rino si badak jawa, Kila kelinci, dan Tupa tupai. Dalam kisah itu juga diselipkan tentang hutan Ujung Kulon, Banten, dan ancaman para pemburu cula badak bagikelangsungan hidup hewan itu.

Harapannya, semakin banyak orangtua dan guru yang mau memperhatikan pendidikan karakter anak-anak, lewat cara mendongeng. Apalagi bisa dikatakan tak ada alasan ide cerita sebab bahan dongeng pun dengan mudah bisa kita pilih lewat internet. Masihkah kita sebagai orang tua punya waktu dan mau bercerita “sekedar” sebagai pengantar tidur untuk anak-anak? Atau, kapan terakhir kali kita mendongeng untuk mereka? Mungkin sebagian dari kita masih mendongeng untuk anak-anak, kebiasaan yang kita kenal secara turun-temurun.

Sebagian orangtua lainnya, terutama mereka yang tinggal di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi, mendongeng bukan lagi prioritas atau “disempatkan” setiap hari.

Raira (10), yang tinggal di kawasan Pondok Pucung, Tangerang Selatan, misalnya tak lagi mendengar dongeng dari orang tuanya karena sibuk bekerja dan pulang sekitar pukul 19.00.

“saya memilih buku cerita dan membaca sendiri. Guru di sekolah juga tidak bercerita. Biasanya kami diminta menghafal puisi, lalu maju ke depan untuk dinilai,” kata gadis kecil yang suka kisah Cinderella ini.

Serupa dengan Raira, Satya Marga (11), yang duduk di kelas VI, juga tak mendengar dongeng dari orangtua  ataupun guru. Dia tahu cerita Malin Kundang karena membaca sendiri buku cerita rakyat yang dibelikan orangtuanya. Itu pun dulu. Belakangan ini dia lebih asyik dengan permainan (game).

Meski demikian, Satya dengan lancar mengatakan, dari cerita Malin Kundang dia belajar, seorang anak tak boleh melawan orangtua.

Di sisi lain, Sugianti, guru SD Muhammadiyah 23 Utan Kayu, Jakarta Timur menggunakan dongeng untuk mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak didiknya. “Biasanya, saya membawakan dongeng binatang yang bisa menunjukkan mana perilaku yang baik dan tidak baik. Kadang-kadang ada beberapa anak yang bisa menceritakan kembali di depan kelas,” ujarnya.

Pada seminar tentang dongeng dari Nusantara Bertutur di Gedung Elnusa, jakarta, pekan lalu, sutradara Garin Nugroho antara lain mengingatkan, dongeng diperlukan untuk memberikan contoh karakter baik bagi anak-anak, ini antara lain mengingat pengaruh televisi yang sulit dielakka. “Sering kali dalam siaran televisi di ruang keluarga ditampilkan hal-hal vulgar dan dangkal,” katanya.

Garin tak memberikan contoh, dia mempersilakan para orangtua mengamati tayangan televisi yang ditonton di ruang keluarga.

Selain keharusan menata ulang ruang publik, untuk menangkal pengaruh itu dongeng bisa jadi contoh agar aank-anak punya panutan karakter baik, seperti kejujuran, cinta lingkungan, gotong-royong, kepemimpinan, dan tanggung jawab.

Dongeng pun bisa ditampilkan dalam berbagai bentuk. Dia mencontohkan, dalang adalah pendongeng yang memiliki pengetahuan luas. Kisah yang disampaikan seorang dalang atau pendongeng memberikan contoh karakter bagi anak-anak yang kemudian melekat.

Pada saat sama, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Kacung Marijan bercerita soal ibundanya yang tak berpendidikan, tetapi mampu mendongeng telah membuat dia memiliki “mimpi” untuk berprestasi.

Kacung merasa beruntung meski lahir di desa, ibu dan gurunya suka mendongeng. Alhamdulillah, dia tumbuh jadi sosok yang berani berimajinasi dan memiliki impian. “Sekarang 95 persen orang Indonesia sudah bisa membaca, tetapi tradisi lisan justru berkurang,” ujarnya.

 

Memilih cerita

                Sementara pembawa acara Muhammad Farhan mengingatkan agar dalammemilih kisah, orangtua bijaksana. Hal itu karena belum tentu semua cerita rakyat cocok untuk anak-anak, misalnya kisah Jaka Tarub.

                Kisah itu tetap bisa diceritakan orang tua kepada anak-anak, tetapi dengan penjelasan pesan moralnya. Misalnya, mengintip kisah Jaka Tarub itu tidak baik. Di sisi lain, orang tua bisa “membuat” cerita sendiri dengan bahan dari kondisi sekitarnya.

                Farhan ingat apa yang dilakukan ayahnya saat masih kanak-kanak. Ketika mereka shalat di Masjid Demak, Jawa Tengah, misalnya, sang ayah bercerita tentang kaitan masjid ini dengan apa yang dilakukan Wali Songo. Dari dongeng sang ayah, dia tidak hanya tahu tentang peranan para wali dalam sejarah bangsa Indonesia, tetapi juga karakter baik dari para wali.

                Kaitan erat antara dongeng dan pendidikan karakter pada anak-anak itulah yang inginkembali dibangkitkan berbagai elemen dalam masyarakat. Mereka amsih merasa prihatin dengan “lenyapnya” karakter baik bangsa Indonesia dan sulitnya mendapatkan contoh figur publik yang berkarakter baik.

Apalagi membangun karakter baik tak bisa instan, harus dilakukan terus-menerus hingga nilai-nilai karakter baik itu tertanam dalam benak seseorang, dan mewujud dalam perilaku sehari-hari.

 

Kompas, Senin 26 Januari 2015.