SEKILAS INFO

     » MADIUN GEMAR MEMBACA DAN TERTIB ARSIP 2018      » SEGALA BENTUK LAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN MADIUN GRATIS      » SELANGKAH KE PERPUSTAKAAN SEJUTA PENGETAHUAN      » SELAMAT DATANG DI WEBSITE KANTOR PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN MADIUN
Dinamika Perubahan Masyarakat
Tanggal Posting: 03 Maret 2015

DINAMIKA PERUBAHAN MASYARAKAT

                                                       (Dari Buku Menelusuri Jejak Masa Lalu-Bagian Keempat)
 

REVOLUSI HIJAU

                Dinamika atau perubahan adalah inti jiwa masyarakat, maka persoalan-persoalan perubahan sosial dan kebudayaan dalam masyarakat sesungguhnya adalah persoalan hakiki yang merupakan kodrat manusia. Perubahan itu dapat berupa pergeseran nilai-nilai sosial, pola perilaku, lembaga-lembaga kemmasyarakatan, sistem mata pencaharian dan sebagainya.

                Pada masa Hindia Belanda, terjadi perubahan yang cukup berarti dalam tatanan masyarakat pertanian di Kabupaten Madiun. Ketika Belanda gagal menundukkan sikap perlawanan masyrakat, maka diambil kebijakan yang bersifat non-militer. Kebijakan yang disebut politik kebudayaan (cultur stelsel) mencoba mengajak masyarakat untuk bekerjasama.

                Pada masa itu, Pemerintah Hindia Belanda kemudian banyak membangun prasarana untuk menunjang produksi tanaman dagangan untuk ekspor. Salah satu prasarana yang terpenting dalam hal ini adalah waduk-waduk dan saluran-saluran irigasi untuk meningkatkan produktivitas tanah. Bahkan setelah tahun 1885 Departemen Pekerjaan Umum Pemerintah Hindia Belanda mendirikan suatu bagian khusus yang dinamakan “Brigade Irigasi” yang merencanakan program pembangunan sarana-sarana irigasi di pulau Jawa yang berskala besar.

                Pembangunan waduk dan saluran air untuk irigasi juga berlangsung di Kabupaten Madiun. Namun harus diakui bahwa semua usaha itu lebih bermanfaat bagi kepentingan pemerintah kolonial, dan tidak terbukti banyak manfaatnya bagi petani saat itu.

 

PABRIK GULA DAN KEHIDUPAN LOJI

                Kesuburan tanah Kabupaten Madiun terkenal sejak dahulu kala. Mulai dari Kasultanan Demak hingga sekarang. Tak mengherankan kemudian Pemerintah Hindia Belanda terus menancapkan kekuasaannya di wilayah ini. Setelah prasarana pengairan dibangun, maka dibangun pulalah pabrik-pabrik gula di kawasan Kabupaten Madiun dan sekitarnya.

                Di Kabupaten Madiun, ada 2 pabrik gula besar yaitu Pagotan dan Kanigoro. Pabrik Pagotan didirikan tahun 1905, dan menampung tanaman tebu dari berbagai kawasan. Sebagai sebuah industri, maka keberadaan pabrik ini membawa perubahan sistem pertanian di Kabupaten Madiun.

                Kebijakan Pemerintah Belanda kemudian adalah merubah kawasan persawahan dari tanaman padi menjadi tebu. Untuk itu, pemilik tanah persawahan wajib menyewakan tanahnya apabila pabrik gula menghendaki untuk ditanami tanaman tebu.

                Perubahan sistem bertani semacam itu ternyata juga tidak membawa banyak perubahan kehidupan bagi para petani. Mereka tetap saja tidak menjadi tuan rumah di tanah sawahnya sendiri.

                Sementara itu di areal pabrik kemudian dibangun komplek perumahan bagi para staf dan karyawan pabrik. Orang menyebut komplek perumahan itu sebagai loji. Di loji atau komplek perumahan itu disediakan prasarana dan sarana yang memadai dan dihuni oleh orang-orang Belanda, serta masyarakat berpendidikan yang kemudian dijadikan pegawai pabrik gula.

 

GERAKAN SOSIAL SIKEP DAN DAM

                Sikep, ada yang menyebut DAM merupakan salah satu bentuk gerakan sosial politik yang berkembang di wilayah Kabupaten Madiun sejak akhir abad ke -19. Sesungguhnya Siekp atau DAM tidak berbeda dengan gerakan Saminisme yang berkembang di Jawa Tengah bagian utara (khususnya Blora), adalah sebuah bentuk gerakan protes terhadap tindakan penjajah dengan menggunakan senjata spiritual.

                Disebut Sikep karena gerakan ini berkembang secara sembunyi-sembunyi, bahkan kitab ajarannya disebut ‘buku teles’ (buku basah) yaitu hanya dituturkan secara lisan. Sedangkan istilah DAM konon merupakan samaran kata Bahasa Jawa “Dadiyo Apa Mbangkang” (jadi apapun membangkang), yaitu penentangan terhadap segala bentuk tekanan ekonomi dan sosial penjajah yang sangat memberatkan kehidupan rakyat.

                Di Kabupaten Madiungerakan ini mendapatkan banyak penganut, terutama para petani dan buruh di wilayah bagian utara Kabupaten Madiun, yaitu bagian utara Kecamatan Jiwan, Sawahan, Balerejo, Pilangkenceng, Mejayan bahkan sampai Saradan dan Gemarang.

                Konon pada jaman pergerakan nasional Bung Karno pernah berada di dusun Plosorejo (sekarang termasuk desa Simo, Kecamatan Balerejo) dan di sini terdapat seorang teman seperjuangan bernama Proyo yang juga penganut ajaran Sikep atau DAM. Menurut banyak cerita, selama berada di dusun itu tidak akan ada Belanda yang bisa menangkap Bung Karno bahkan dengan diberondong peluru sekalipun tidak akan mempan.

 

MODERNISASI PEDESAAN PERTANIAN

                Tahun 1968, di Indonesia gencar dikumandangkan mordenisasi desa. Kebijakan ini dilakukan guna membangun kehidupan masyarakat Indonesia yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani. Pada masa itu petani diberikan penyuluhan melalui petugas pertanian lapangan/PPL dan sekaligus melalui media radio dikumandangkan siaran pedesaan. Siaran pedesaan ini merupakan program penyebaran informasi yang ditujukan untuk memberikan kesadaran dan pengetahuan kepada petani tentang pola bertani  modern.

                Modernisasi yang melaju bersamaan dengan konsep pembangunan ekonomi terbukti telah mengembangkan semangat baru bagi masyarakat pedesaan. Sikap seperti kebanggaanakan prestasi yang dihasilkan (produksi), rasionalitas pikir, keutamaan nilai-nilai yang bersifat material, penggunaan waktu, dan lain-lain telah menumbuhkan dan mendorong sifat-sifat modern bagi masyarakat pedesaan.

                Sikap tradisional para petani yang lebih bertumpu pada pengalaman bercocok tanam kini terbukti telah bergeser. Keutamaan ilmu dan teknologi, kebutuhan akan inovasi dan perubahan, yang ditunjang dengan semakin meningkatnya taraf pendidikan, lebih memacu semangat untuk memaksimalkan keuntungan dari usaha tani mereka. Dan kini adalah suuatu kenyataan bahwa kawasan ini diklaim sebagai lumbung padi di Kabupaten Madiun.

                Meskipun tidak dapat dikatakan hilang sama sekali, harus diakui bahwa beberapa  aktifittas masyarakat yang bersifat paguyuban (geselschaft) khususnya yang berkaitan dengan usaha tani telah lama ditinggalkan. Istilah ‘soyo’, ‘sambatan’, atau ‘glebagan’ yang dulu kita kenal sebagai bentuk gotong royong antar petani dalam mengerjakan sawah: ‘mluku, ndaut, atau tandur’, kini tidak lagi dilakukan. Hampir semua bentuk pekerjaan kini dihitung dengan sistem upah in-natura yang disebut ‘bawon’.

                Modernisasi pertanian serta dukungan sarana dan prasarana transportasi-komunikasi nampaknya juga telah mempercepat terjadinya perubahan dalam proses sosial masyarakat. Modernisasi pertanian juga terbukti menciptakan profesi baru dan mengakibatkan perubahan mendasar dalam pola lapangan kerja (okupasi). Mekanisasi alat-alat pertanian telah merangsang tumbuhnya pekerjaan baru yang berdasarkan keterampilan, dan tumbuhnya layanan-layanan jasa dalam sektor pertanian. Misalnya jasa traktor tangan untuk pengolahan lahan dan penggilingan padi (huller).

 

SEWULAN

PUSAT PANDE BESI YANG TETAP BERTAHAN

                Sewulan, adalah sebuah wilayah yang berada di arah tenggara (selatan timur) dari pendopo Kabupaten Madiun. Desa ini banyak menyimpan kisah dan peristiwa penting di masa silam. Desa ini dahulu adalah desa perdikan, sebuah wilayah yang mendapat keistimewaan dari kerajaan. Keistimewan itu diantaranya dibebaskannya warga dari membayar pajak ke negara.  Pada masa Kerajaan Surakarta dipimpin Susuhunan Paku Buwono II, hadiah sebagai tanah perdikan itu ddiberikan.

                Nama sewulan berasal dari kata ‘sewu” dan “wuwul”. Sewu Seribu dan Wuwul yang berarti ukuran satuan luas pada saat itu (misalnya sama dengan satuan hektar sekarang). Karena jasanya untuk sebuah tugas mengatasi pemberontakan, Ki Bagus Harun diberi hadiah oleh raja. Ki Bagus Harun itu adalah santri dari pondok pesantren Tegalsari (Ponorogo) yang dipimpin Kyai Besari. Ki Bagus Harun atau yang kemudian bernama Kyai Achmad Basariyah diberi hadiah tanah yang dipilihnya sendiri seluas seribu wuwul, yang kemudian menjadi desa perdikan Sewulan.

                Desa Sewulan kemudian menjadi pusat pendidikan dan keagaman bagi wilayah sekitarnya. Tidak hanya itu, Sewulan kemudian juga menjadi pusat teknologi besi pada saat itu. Dari desa ini, diproduksi barang-barang dari besi untuk kepentingan pertanian maupun senjata (keris dsb). Cikal bakal ahli pembuat barang dari besi (pande besi) bernama Muhamad Slamet, seorang empu dari Yogyakarta. Sang Empu ini juga masih merupakan keturunan Empu Suro dari Kasultanan Demak.

                Berbagai peralatan pertanian seperti cangkul, lencek, garpu, pecok, ganco, sabit dll, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga lainnya berbahan besi diproduksi di desa ini. Hingga kini Desa Sewulan itu berada di Kecamatan Dagangan itu masih terkenal sebagai pusat industri pengolahan besi.

 

“PAKBOLETUS” DAN KESEIMBANGAN EKOSISTEM

                Tradisi cangkriman (bedhekan) atau teka-teki dalam tutur lisan, sangat akrab di kalangan masyarakat Jawa pada masa lalu. Apa yang menjadi cangkriman, lazimnya menjadi issue atau persoalan yang hangat masa itu.

                Adalah cangkriman “pakboletus” yang akrab di kalangan masyarakat pertanian di Kabupaten Madiun, yang merupakan singkatan dari “tipak kebo ana lelene satus”  (bekas tapak kaki kerbau ada ikan lele seratus).

                Cangkriman yang populer di kalangan anak-anak pedesaan ini adalah gambaran kemakmuran di masa lalu ketika keseimbangan ekosistem masih benar-benar terjaga; orang dapat dengan mudahnya memperoleh ikan air tawar untuk lauk-pauk, tidak harus berternak lele dumbo, atau membelinya di pasar seperti sekarang.

 

Jambu Muneng

                Jambu muneng pernah tersohor setidaknya sampai tahun 1980-an. Jenis jambu air ini banyak ditanam di pekarangan rumah-rumah penduduk desa-desa di wilayah Kecamatan Pilangkenceng, dan mereka menjualnya di pasar Desa Muneng (Desa Simo) sehingga nama Jambu Muneng yang kemudian terkenal. Buahnya besar-besar, rasanya manis, kulit dagingnya tidak kaku, dan warnanya yang kemerahan sangat menggoda.

 

Tikar Mendhong

                Tikar yang dahulu digunakan sebagai alas tidur banyak dibuat dari bahan rumput mendhong. Sebagian wilayah Kecamatan Balerejo jaman dahulu merupakan daerah genangan banjir luapan kali Jerohan yang melintasi kawasan tersebut. Sehingga banyak terdapat rawa-rawa di situ yang oleh masyarakat kemudian ditanami mendhong sebagai bahan baku pembuatan tikar.

                Rumput mendhong yang telah dikeringkan, kemudian untuk membuatnya lebih menarik diberi pewarna merah, hijau, dan hitam sebelum dianya. Umumnya tikar mendhong dianyam oleh kaum perempuan, hingga saat ini masih banyak kita jumpai.

 

KOTA PRAJA MADIUN

                Tahun 1918 sejarah Kabupaten Madiun mencatat peristiwa penting. Karena pada tahun itu wilayah pusat pemerintahan dikembangkan menjadi suatu daerah pemerintahan tersendiri yang terpisah dengan Kabupaten Madiun. Berdasarkan Peraturan Pemerintah tanggal 20 Juni 1918, dengan landasan staatsblad tahun 1918 nomor 362, berdirilah Kota Praja Madiun.

                Pada awal berdirinya, Kota Praja Madiun masih dipimpin oleh pelaksana yang menjalankan tugas kewalikotaan yaitu Ir. MK Ingenjilf, Assisten Residen Madiun. Sampai tahun 1927, tugas dialihkan kepada Mr. De Moand. Setelah 10 tahun berdiri, baru kemudian ditetapkanlah Mr. KA Schotman sebagai walikota atau Burgemeester yang pertama Kota Praja Madiun, berdasarkan Surat Keputusan Tahun 1928 Nomor 411. Mr. KA Schotman bertugas hingga tahun 1932.

                Di awal berdirinya, Kota Praja Madiun hanya memiliki 12 desa dan memiliki luas sekitar 9.014 km². Desa-desa yang awalnya berada dalam wilayah Kabupaten Madiun yang menjadi bagian Kota Praja Madiun adalah: Madiun Lor, Sukosari, Patihan, Oro-oro Ombo, Kartoharjo, Pangongangan, Kejuron, Klegen, Nambangan Lor, Nambangan Kidul, Pandean dan Taman.

                Setelah Indonesia merdeka, berbagai perubahan telah terjadi. Tepatnya pada tahun 1952, ada 8 desa wilayah Kabupaten Madiun dialihkan menjadi wilayah Kota Praja Madiun. Desa-desa itu adalah: Demangan, Josenan, Kuncen, Banjarejo, Mojorejo, Rejomulyo, Winongo, dan Mangunharjo.

                Kawasan Kabupaten Madiun didominasi oleh komunitas pedesaan. Kehidupan masyarakat desa mengandalkan pertanian sebagai sumber perekonomian. Seperti halnya kehidupan masyarakat pedesaan yang bermatapencaharian pertanian di tempat lain, kehidupan sosial masyarakat Kabupaten Madiu berlangsung dalam suasana kebersamaan (komunal) dan saling tergantung/berelasi (interdependensi). Dalam suasana semacam itu, sikap keguyupan dan kegotong royongan menjadi ciri khas masyarakat Kabupaten Madiun.

                Seiring perjalanan waktu, sebagai akibat pergaulan sosial, pertambahan penduduk, kemjuan pengetahuan dan teknolog, maka perubahan demi perubahan teruss berlangsung. Perubahan memang menjadi roh kehidupan untuk menuju ke arah yang lebih baik. Peristiwa perubahan sendiri berlangsung sejak awal ketika madiun masih berupa hutan (Wonorejo). Bahkan sejak mas bupati pertama Madiun, ketika Pangeran Timoer memutuskan memindahkan pusat pemerintahan dari murid-murid. Sogaten ke arah selatan.

                Perubahan yang berlangsung senantiasa membawa dampak sosial di masyarakat. Tetapi seluruh perubahan dari kebijakan selalu diupayakan ke arah yang positif dan ke arah yang bisa membawa kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dari masa sebelumnya. Peristiwa-peristiwa yang membawa perubahan atau sebaliknya perubahan yang memunculkan peristiwa baru merupakan bagian terpenting dari sebuah sejarah.