SEKILAS INFO

     » MADIUN GEMAR MEMBACA DAN TERTIB ARSIP 2018      » SEGALA BENTUK LAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN MADIUN GRATIS      » SELANGKAH KE PERPUSTAKAAN SEJUTA PENGETAHUAN      » SELAMAT DATANG DI WEBSITE KANTOR PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN MADIUN
Komunitas yang Terus Berkembang
Tanggal Posting: 03 Maret 2015

PASKA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

KOMUNITAS YANG TERUS BERKEMBANG

 (Dari Buku Menelusuri Jejak Masa Lalu-Bagian Kelima)

 

Perubahan di Madiun dalam abad ke-20 tidak lepas dari perubahan global (dunia). Penemuan pengetahuan dan teknologi telah membawa banyak perubahan bagi kehidupan manusia.

 

1942-1945

“Nippon yang Berkuasa”

                Tahun 1942 Nippon merebut kekuasaan Hindia Belanda di Indonesia. Pada masa ini sekolah-sekolah di Kabupaten Madiun diwajibkan mengikuti aturan pemerintah dai Nippon. Para pelajar yang sudah memasuki remaja diajari pengetahuan bahasa Jepang dan kegiatan baris-berbaris. Para tentara Jepang sebagian menjadi guru di sekolah-sekolah dan mengajar murid-murid. Segala yang “berbau” Hindia Belanda dihapuskan, dan digantilah ideologi yang mengarah pada kepentingan Nippon.

                Banyak anggota masyarakat yang direkrut menjadi tentara Jepang (Heiho). Masyarakat diyakinkan bahwa Nippon adalah “saudara tua” yang datang untuk membawa kesejahteraan. Banyak perubahan drastis yang dilakukan pemerintah Nippon. Tetapi hampir semua kebijakan yang diambil cenderung mengarah pada penyiapan kekuatan pertahanan militer.

                Pada masa ini, Nippon menjadikan Kabupaten Madiun (dan sekitarnya) menjadi benteng udara dan darat. Kebijakan membangun lapangan terbang Maospati (yang diawali Belanda sejak tahun 1937) dipercepat, dan begitupula pembangunan gudang senjata di hutan Saradan (Baru Klinting).

                Masa pendudukan Nippon tentu saja memberatkan kehidupan masyarakat. Tak pelak, pada masa ini masyarakat hanya sebagai sebuah obyek untuk kepentingan penguasa yang tidak memihak kebutuhan masyarakat.

 

1945

Kemerdekaan

                Gemuruh kemerdekaan membahana pada 17 Agustus 1945. Pekik kemerdekaan membahana di seluruh penjuru Indonesia. Masyarakat Kabupaten Madiun juga menyambut kemenangan bangsa Indonesia. Kekalahan Jepang/Nippon dalam perang Dunia II dari tentara sekutu berdampak pada keberadaan bangsa Indonesia. Kondisi itu kemudian dimanfaatkan oleh para pejuang Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan sebagai sebuah bangsa. Di jalan Pegangsaan Timur, atas nama rakyat Indonesia, Soekarno dan Hatta (yang kemudian disebut Dwi-Tunggal) memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

                Sejak saat itu, terjadi pula perubahan dalam pemerintahan di Kabupaten Madiun. Pada saat itu, yang menjabat sebagai bupati adalah Raden Mas Tumenggung Ronggo Kusnandar. Kebijakan yang berbau Nippon pun kemudian ditinggalkan. Masyarakat Kabupaten Madiun kemudian pula merasakan kemenangan dan menemukan jatidiri sebagai sebuah masyarakat yang mandiri.

 

PERISTIWA

1948-1949

                Tahun 1948, ketika Negara Indonesia masih berusia muda, banyak persoalan yang harus diselesaikan. Di tengah suasana kemerdekaan yang baru saja diraih, Balanda masih ingin menguasai kembali Republik Indonesia. Kala itu, ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

                Sementara, di dalam negeri pun muncul usaha pemberontakan, yaitu yang dilakukan oleh kelompok PKI. Strategi mereka ingin menguasai pemerintah, dengan terlebih awal menguasai ibukota. Karena waktu itu ibukota berada di Yogyakarta, maka PKI yang dipimpin Muso menjadikan Madiun sebagai tempat untuk melawan pemerintah Republik Indonesia. Muso sendiri bukanlah orang Madiun, tetapi hanya memanfaatkan wilayah Madiun sebagai markasnya. Ini dilakukan guna mendekati ibukota, agar mudah dikuasai dan memudahkan akses dengan luar negeri. Peristiwa ini cukup menghebohkan, karena pemberontakan itu tentru saja tidak sesuai dengan cita-cita kemerdekaan RI. Banyak korban yang mati akibat pemberontakan PKI yang dipimpin Muso, karena tidak mau mengikuti jejaknya. Akibatnya, para tokoh masyarakat itu dibunuh dengan kejam.

                Tempat dimana para tokoh masyarakat dibunuh itu terletak di daerah pegunungan Wilis, tepatnya di desa Kresek. Kini di tempat itu didirikan Monumen kekejaman PKI yang dibangun untuk peringatan bagi masyarakat akibat kekejaman PKI.

 

1965

Politisasi Massa

                Masa buram. Begitu banyak orang mengatakan manakala mengingat peristiwa yang terjadi pada tahun 1965. Karena pada masa itu berlangsung konflik politik tingkat tinggi, yang berimbas pada masyarakat Kabupaten madiun.

                Keluguan masyarakat pedesaan tidak jarang berakibat paada nasib tragis, dimana banyak korban kematian terjadi. Semua terjadi lantaran ketidak-tahuan. Banyak orang yang tidak berdosa harus terseret dalam konflik politik yang tidak berujung.

                Masa tahun 1965, merupakan masa tersulit dalam sejarah perjalanaan Kabupaten Madiun. Banyak keluarga harus kehilangan anggota keluarganya. Peristiwa yang populer disebut G 30 S PKI ini menjadi catatan penting dan tidak boleh terulang kembali. Karena sesungguhnya masyarakat Kabupaten Madiun adalah masyarakat yang mencintai kedamaian dan kerukunan.

                Bahkan sejka berdirinya (Kasultanan Demak), nuansa agamis telah dikembangkan di Kabupaten Madiun. Karena itulah gerakan PKI tidak berhasil, kerena memang ideologi yang dikembangkan sangat tidak sesuai dengan nilai yang diyakini masyarakat Madiun.

 

1970

Panca Usaha Tani

                Selepas dari masa politisasi massa, dimana terjadi pergolakan politik pada tahun 1965, dimulai penataan baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menyadari akan situasi yang tidak menguntungkan pada masa itu, kemudian Pemerintah Indonesia mengambiul kebijakan untuk membawa masyarakat pada Pembangunan Lima Tahunan (PELITA). Pembangunan menjadi konsep yang mengajak masyarakat untuk bekerja keras dan terukur, serta mulai meninggalkan konflik politik.

                Usaha pembangunan yang monumental terjadi ketika dicanangkan Panca Usaha Taani. Karena menyadari bahwa masyarakat Indonesia

Sebagian besar hidup dalam dunia pertanian, maka pertanian mulai digarap secara modern. Usaha-usaha itu meliputi pemilihan bibit yang unggul, sistem pemupukan yang baik, sistem pengairan yang baik, pembasmian penyakit serta modernisasi peralatan pertanian.

                Masa-masa tahun 70-an, masyarakat Kabupaten Madiun sangat antusias melaksanakan program-program kemajuan pertanian. Berbagai produk padi varietas unggul dikembangkan dan ditanam di persawahan.

                Perkembangan ini menjadikan Kabupaten Madiun menjadi lumbung pangan bagi Propinsi Jawa Timur. Produksi padi Kabupeten Madiun terus meningkat dan dikirim ke luar daerah.

 

1981

Listrik Masuk Desa

                Seperti halnya fasilitas telepon, prasarana kelistrikan di desa-desa Kabupaten Madiun baru diwujudkan pada tahun 1981. Jauh sebelum itu, sejatinya Kabupaten Madiun juga memiliki pembangkit listrik di Dungus. Tetapi listrik yang dihasilkan hanya diperuntukan bagi wilayah perkotaan (dimana dahulu tinggal masyarakat Hindia Belanda).

                Sejak dibangunnya jaringan listrik  ke rumah-rumah, maka terjadi banyak perubahan di pedesaan. Jika sebelumnya, jalan pedesaan hanya diterangi oleh cahaya oncor/obor atau lampu ting, maka sejak listrik masuk desa, jalan pedesaan mulai benderang pada malam hari. Dengan semangat keguyuban, masyarakat Kabupaten Madiun yang tinggal di pedesaan bersama-bersama membangun prasarana lampu jalan.

                Banyak manfaat dari kehadiran energi listrik ini. Masyarakat bisa memanfaatkan untuk kepentingan keluarga, usaha maupun sosial. Pada kepentingan keluarga, melalui listrik anggota keluarga bisa menonton televisi dan mendengarkan radio, menyeterika pakaian dan sebagainya. Pada kepentingan usaha, masyarakat petani bisa memanfaatkan lampu pada malam hari untuk menerangi bekerja, menjahit dan sebagainya. Dari aspek sosial, sejak itu pula, masjid atau surau menjadi terang benderang di kala malam hari.  Suara adzan jeuh lebih bergema, karena listrik bisa untuk menghidupkan sound system atau pengeras suara.

                Pendek kata, sejak tahun 1981, desa-desa di Kabupaten Madiun menjadi lebih hidup dari masa-masa sebelumnya. Listrik telah membuat banyak perubahan yang memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.

 

1995

Telepon Masuk Desa

                Komunikasi menjadi bagian kebutuhan umat manusia. Ketika pada abad ke-19, tepatnya tahun 1835, Samuel Morse menemukan teknologi telegraf maka terjadi banyak perubahan dalam dunia telekomunikasi. Setelah kemudian Alexander Graham Bell (1876) mengembangkan telepon (sebagai kelanjutan pengembangan teknologi telegraf), maka mulailah berlangsung hubungan internasional yang makin mudah. Teknologi telepon itupun kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk pula ke Indonesia.

                Pada masa Hindia Belanda, teknologi telepon juga dibangun di Indonesia, tetapi hanya untuk wilayah yang terbatas. Hanya wilayah perkotaan atau yang menjadi kepentingannya saja yang dibangun jaringan. Untuk wilayah pedesaan, baru pada tahun 1975, ketika Pemerintah Indonesia membeli Satelit Palapa I, terjadi perubahan besar dalam dunia telekomunikasi.

                Di Kabupaten Madiun sendiri, mulai tahun 1995 telah dibangun jaringan telepon yang menghubungkan antara wilayah pedesaan . ketersediaan jaringan hubungan telepon ini, secara otomatis memberi kesempatan masyarakat untuk memiliki akses hubungan yang lebih mudah dan luas. Transaksi bisnis dan hubungan sosial menjadi intensif sejak telepon memasuki kawasan desa.

 

1998

REFORMASI

                Perubahan demi perubahan yang terjadi dalam skala internasional dan nasional sedikit banyak berdampak bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Madiun. Ketika kemudian pada awal 1998 muncul desakan atas perubahan terhadap sistem pemerintahan, maka gejolak juga muncul di daerah-daerah. Kala itu di Jakarta munculah desakan reformasi atas penyelenggaraan pemerintahan yang dimotori oleh amhasiswa dan kalangan intelektual muda. Tuntutan mereka adalah berlangsungnya iklim demokrasi, dan pelenyapan praktik-praktik kolusi, korupdi dan nepotisme (KKN).

                Gerakan ini merembet ke daerah, termasuk ke wilayah Kabupaten Madiun. Bupati Djunaedi Mahendra yang abru menjabat beberapa bulan menyikapinya dengan bijak. Beserta jajaran Muspida, diajaklah semua elemen untuk mendialogkan bersama persoalan reformasi.

                Tepat pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto yang memimpin Indonesia sejak 1966, mengundurkan diri. Pengunduran diri yang disebutnya sebagai peristiwa “lengser keprabon, mandeg panditho”, adalah sikap yang diambilnya sebagai jawaban atas desakan kalangan aktivis reformasi.

                Menyikapi perubahan iklim politik, Bupati Madiun mengantisipasi perubahan dengan terus mengajak dialog dan bahkan secara rutin mendatangi kelompok masyarakat. Kunci jawaban menghadapi perubahan yang dilakukan adalah dengan melakukan komunikasi publik. Tindakan mendatangi warga dan melakukan komunikasi dengan publik ini merupakan cermin dari sikap-sikap demokratis. Karena esensi demokratis adalah dengan bersikap terbuka atas kebijakan-kebijakn yang diambil dan penegakan peraturan.

                Sekalipun demikian, perubahan ke arah demokrasi tidaklah serta merta bisa dilakukan dengan cepat seperti membalik tangan. Berbagai upaya terus dilakukan guna menciptakan perubahan yang berjalan dinamis tetapi tetap dengan jalan damai.