SEKILAS INFO

     » MADIUN GEMAR MEMBACA DAN TERTIB ARSIP 2018      » SEGALA BENTUK LAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN MADIUN GRATIS      » SELANGKAH KE PERPUSTAKAAN SEJUTA PENGETAHUAN      » SELAMAT DATANG DI WEBSITE KANTOR PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN MADIUN
Madiun Menatap Masa Depan
Tanggal Posting: 03 Maret 2015

 MADIUN MENATAP MASA DEPAN

 (Dari Buku Menelusuri Jejak Masa lalu-Bagian Ketujuh)

 

KERETA TELAH LEWAT

                Jauh sebelum kendaraan berseliweran di jalan, sarana transportasi masyarakat menggunakan tenaga hewan, yakni cikar dan dokar. Cikar digunakan untuk mengangkut barang dan dokar untuk mengangkut manusia. Namun sejak abad 19, di Jawa mulai digunakanlah sarana kereta api. Bahkan di Madiun (kini Kota Madiun), terdapat industri kereta api (INKA), satu-satunya di Indonesia. Dulunya , industri itu sebetulnya adalah pusat reparasi kereta api yang beroperasi di seluruh pulau Jawa.

                Di sepanjang jalan antara Ponorogo-Madiun-Caruban (yang melintasi Kabupaten Madiun), dihubungkan oleh jalur rel kereta api. Stasiun yang terdapat di Kabupaten Madiun saat itu, mulai dari selatan yakni: Mlilir, Umbul, Dolopo, Uteran, pagotan, Kanigoro, Sleko, Pasar Gedhe, Stasiun Besar. Dari ujung timur, Stasiun Saradan, Caruban, Babadan, Stasiun Besar.

                Kereta api, digunakan untuk mengangkut manusia dan barang-barang dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Jalur rel kereta api ke arah selatan yang paling jauh berada di Slahung (Kabupaten Ponorogo). Ke arah selatan, kereta dijalankan setiap hari 2 kali, pagi dan sore. Hingga tahun 70-an, kereta api masih beroperasi. Tetapi mulai pertengahan tahun 1970-an (atau sekitar 1975-1976), berangsur-angsur operasional kereta api ke jalur selatan mulai dihentikan.

                Pengehentian operasional ini dilakukan atas pertimbangan ekonomis. Mengingat kala itu, sarana transportasi kendaraan umum jumlahnya meningkat. Orang lebih praktis, tidak harus menunggulama. Setiap jam ada kendaraan umum beroperasi.

                Sementara yang jalur ke timur (arah Caruban-Surabaya), hingga sekarang (2005) masih beroperasi. Tetapi kebanyakan melayani jalur jauh. Hubungan antar wilayah kini lebih mengandalkan kendaraan berbahan bakar bensin, seperti bus, van dan sebagainya.

 

LORI-LORI TEBU

                Sejak dibangunnya pabrik-pabrik gula di wilayah Madiun, dibangun pula rel-rel kereta api yang dikhususkan untuk mengangkut tebu-tebu dari perkebunan/persawahan. Kala itu dibangun rel yang mengarah ke areal perkebunan. Untuk mengangkut tebu di kala “ musim tebang” (musim panen), dari areal perkebunan ke jalur dipasang rel tidak permanen yang hanya digunakan saat tebang. Setelah tebu ditebang dan dimasukkan dalam lori, kemudian ditariklah lori itu dengan hewan sapi. Sesampai di jalur permanen, lori ditarik lokomotif untuk diangkut ke pabrik gula.

                Setelah berpuluh-puluh tahun, pada dekade 80-an, jalur rel lori mulai tidak difungsikan lagi. Pertimbangannya lantaran, jalur rel lori itu berhimpitan dengan jalan raya, yang makin padat dilalui kendaraan. Untuk jalur yang melalui area jauh dari jalan raya, rel lori masih digunakan hingga tahun 90-an.

                Di wilayah Kabupaten Madiun, ada dua pabrik gula yakni di Pagotan dan Kanigoro, Geger. Tetapi pasokan tebu untuk pabrik-pabrik lainnya (Rejoagung yang kini berada di wilayah Kota Madiun), hampir semuanya berasal dari wilayah Kabupaten Madiun. Karena itu jalur-jalur rel lori sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Madiun.

                Kini penggunaan lori di pabrik gula (PG) Pagotan dan Kanigoro hanya dimanfaatkan terbatas di lingkungan pabrik saja. Sedangkan untuk angkutan tebu dari perkebunan dilakukan dengan menggunakan truk.

 

 

TEBU DAN GULA

                Pada awal abad ke-19, terjadi perubahan kebijakan politik yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda terhadap wilayah jajahannya. Melalui apa yang disebut kebijakan tanam paksa, perkebunan-perkebunan negara penghasil bahan-bahan ekspor harus menguntungkan bagi Hindia Belanda. Kebutuhan akan tanah dan tenaga kerja mendorong pemerintah menerapkan sistem pajak kepada para petani. Dalam kurun waktu antara tahun 1830-1870, penjajah membuka lahan baru dan penanaman komoditas baru. Setelah tahun 1870, perkebunana-perkebunan itu mulai diambil alih oleh para penenam modal swasta.

                Hingga akhir abad ke-19, banyak pabrik atau industri gula dibangun oleh Belanda. Di Kabupaten Madiun, ada dua pabrik gula yang dibangun yakni di Kaniigoro dab Pagotan. Keberadaan pabrik gula tersebut secara otomatis membawa konsekuensi terhadap sistem pertanian di Kabupaten Madiun. Mulai dari perubahan pola tanam sawah, sistem pengairan hingga sampai pada kebijakan penerapan sistem pajak.

                Sejak itu, petani tidak hanya melulu ditanami padi dan palawija saja, mereka mulai harus menanam tebu. Pada sistem pengairan, dibangun kana-kanal atau saluran baru. Tetapi baik tanaman tebu mauopun sistem pengairan yang diterapkan, semuanya hanya untuk kepentingan Belanda, yang dalam hal ini meminta perusahaan swasta untuk mengelolanya. Begitu pula dalam penerapan pajak. Sejak kebijakan cultuurstelsel, mulai akhir abad ke-19 diberlakukan sistem pembayaran pajak tanah dengan pola baru.

                Industri atau pabrik gula, membawa perubahan baru dalam masyarakat Kabupaten Madiun di bagian selatan (yang berdekatan dengan pabrik gula). Sejak itu pula, masyarakat ada yang terlibat menjadi pekerja di pabrik. Kebanyakkan dari mereka hanya bekerja sebagai pekerja harian dan pekerja musiman (mereka menyebut pekerja kampanye). Pekerja harian adalah mereka yang bekerja dengan dihitung jumlah hari bekerja, tetapi sewaktu-waktu dapat diberhentikan. Sedangkan pekerja musiman (kampanye) hanya bekerja di saat musim giling. Para manajer pabrik diambilkan dari orang-orang Belanda dan dibantu staff administraasi dari orang Indonesia yang berpendidikan.

                Sekalipun berkembang dinamika aktivitas masyarakat sebagai akibat keberadaan pabrik gula, tetapi sesungguhnya terjadi tekanan pada kaum petani. Karena dengan pola tanam paksa itu, petani tidak lagi memiliki kebebasan dalam menentukan jenis tanaman yang akan ditanam di tanah miliknya. Mereka harus tunduk terhadap kebijakan Pemerintah Belanda.

 

TANGSI

                Di komplek pabrik gula Pagotan ada sebuah gedung, yang oleh oarang setempat disebut tangsi. Di jaman Belanda, gedung ini digunakan sebagai pusat keamanan dan juga perkantoran pabrik. Tetapi di jaman Nippon (1942-1945), gedung ini juga dijadikan markas tentara Jepang.

                Dalam masa penjajahan Jepang, tangsi menjadi pusat pemantauan perang dan menjadi pusat latihan perang. Selama masa pendudukan Jepang, di halaman gedung tangsi dilakukan latihan kemiliteran bagi rakyat Indonesia. Kala itu, pemudapemuda dikumpulkan dan diberikan latihan kemiliteran. Mereka kemudian direkrut menjadi tentara Jepang (Heiho).

                Di bagian gedung juga terdapat ruang tahanan (sel), yang dijadikan tempat untuk memenjarakan orang yang menentang kebijakan Jepang. Di gedung itu, dulunya juga dijadikan tempat penyiksaan bagi mereka yang melaean tentara Jeapang.

 

SEGA PECEL

                Nasi pecel, seperti telah identik dengan Kabupaten Madiun (atau wilayah Madiun secara luas). Makanan yang terdiri dari nasi, kulupan (sayuran), sambel pecel dan dilengkapi dengan lauk pauk memang enak rasanya. Sambel pecel yang diracik dengan bahan-bahan kacang tanah, lombok, garam, gula, dan daun jeruk purut, menjadi rasa yang khas. Semua bahan itu kemudian di”uleg” atau dilembutkan menjadi satu agar bercampur. Sayuran yang terdiri dari daun-daun yang masih muda (pucukan), tauge, lamtara (mlanding), dan daun kemangi. Sedang lauk pauk nasi pecel terdiri dari tempe goreng, rempeyek dan lempeng (puli).

                Nasi pecel biasanya disajikan pada saat sarapan pagi. Di hampir semua desa, selalu ada warung yang menyediakan nasi pecel. Ke khasan dari nasi pecel ini adalah disuguhkan dengan pincukan, yakni daun yang dibentuk sebagai ajang/piring nasi pecel. Daun yang dipakai biasanya daun pisang atau daun jati. Untuk mendapatkan nasi pecel tidaklah sulit. Selain ada warung-warung, sering pula pecel dijual dengan cara “ideran” (berkeliling).

                Seperti halnya perubahan yang terjadi dalam berbagai hal, nasi pecel pun juga mengalami perubahan. Baik lauknya maupun cara penyajian dan waktu makan yang juga mengalami perubahan. Kini nasi pecel banyak disajikan di piring, dan waktu makannya tidak hanya harus di kala pagi. Tetapi siang dan malam pun ada warung-warung yang menjual nasi pecel.

                Selain itu, kini sambel pecel juga banyak diproduksi dalam kemasan khusus. Sambel ini dijual di toko-toko dan juga dikirim ke berbagai daerah.

 

USAHA KECIL YANG BERKEMABANG PESAT

                Brem menjadi salah satu produk unggula yang sangat potensial dijual dan dieksplorasi. Selain brem, produk unggulan Kabupaten Madiun adalah empeng puli dan keripik garut.

                Keberadaan brem hingga kini menyangga pereekonomian rakyat selain padi. Mulai dari pengusaha, penjual kelas outlet hingga kelas asongan terminal, dan karyawan pabrik pengolahan menggantungkan hidup dari bisnis brem.            

                Adalah Desa Kaliabu Kecamatan Mejayan dan Desa Bancong, Kecamatan Wonoasri. Keduanya berjarak sekitar 21 dan 16 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Madiun. Keduanya adalah lokasi pembuatan brem. Selama ini usaha pembuatan brem di luar dua desa tersebut belum pernah berhasil. Belum ada penelitian yang mengungkap alasan ilmiahnya. Saat ini brem sudah dikemas dalam berbagai bentuk, mulai dalam bentuk permen seperti rasa coklat.

                Orang selalu mengidentikan Kabupaten Madiun dengan nasi pecel dan brem. Padahal nasi pecel yang lezat dan jajanan khas bercitarasa manis asam itu sebetulnya hanyalah sebagian dari sekian produk makanan olahan yang dihasilkan dari Kabupaten Madiun. Banyak produk-produk makanan olahan lainnya yang enak dan lezat seperti tempe, rempeyek, madu mangsa, lempeng, ting-ting jahe dan sebagainya.

                Selain brem terdapat banyak industri rakyat tersebar di berbagai tempat. Hingga akhir tahun 2002, tercatat 165 unit industri formal dan 16.141 unit industri non formal.

 

DUA WAJAH PASAR

                Pasar adalah tempat berlangsungnya proses jual beli antara pedagang dan pembeli. Banyak pasar di Kabupaten Madiun, karena di semua wilayah kecamatan pasti memiliki pasar. Bahkan dalam satu kecamatan memiliki banyak pasar-pasar kecil. Belum lagi pasar desa dan pasar “krempyeng”. Di gtempat itulah masyarakat biasanya menjual hasil produksinya sekaligus membeli barang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Masyarakat memilih pasaar, karena di tempat itu banyak dijual berbagai kebutuhan hidup.

                Di masa lalu, ketika jumlah penduduk masih sedikit, tidak semua pasar dibuka setiap hari. Ada pasar-pasar yang hanya dibuka (beroperasi) saat hari pasaran atau setiap lima hari sekali. Pasar ini dibuka hanya lima hari sekali karena kebutuhan transaksinya sukup sehari itu. Hingga kini pasar semacam  itu masih ada, khususnya pasar hewan. Ini terjadi karena memang kebutuhan akan jual beli hewan (kerbau, sapi dan kambing) tidak sebesar kebutuhan pokok lainnya.   

                Ada dua pasar yang besar di Kabuapaten Madiun yang menjadi pertemuan para pedagang dan pembeli dalam jumlah banyak, yaitu Pasar Caruban (bagian utara) dan Pasar Dolopo (bagian selatan). Dua pasar ini menjadi roda perputaran transaksi di Kabupaten Madiun, selain pasar-pasar yang berada di Jiwan, Wungu, Pagotan, dan Mlilir, serta pasar-pasar kecil lainnya.

                Sekalipun barang-barang yang dijual di pasar itu beragam dan banyak yang masuk kategori barang modern, tetapi pola transaksinya masih konvensional. Para pedagang dan pembeli masih menggunakan uang tunai, dan massih menggunakan tanda transaksi seperti di pasar modern misalnya dengan ATM atau kartu kredit.

                Tetapi memang kini di beberapa tempat, seperti di Jiwan, Dolopo, Pagotan dan Caruban telah muncul mini market yang menjual kebutuhan sehari-hari. Hanya saja untuk produk-produk segar seperti sayur, daging, dan sejenisnya hanya bisa dibeli di pasar. Artinya, pasar tradisional masih menjadi pusat perdagangan yang sangat diperlukan masyarakat.

 

KUNJUNGAN RAJA SURAKARTA : CERMIN BUDAYA MATARAMAN YANG TETAP TERJAGA

                Sekalipun secara administrasi pemerintahan Kabupaten Madiun tidak lagi di bawah nauangan kasultanan Mataram dan meski dinamika perubahan jaman terus berlangsung, namun masih terdapat kesamaan sistem dan kebudayaan antara kedua wilayah. Tradisi, nilai, bahasa dan kebudayaan yang berkembang di antara keduanya hampir tiada bedanya. Bagaimanapun harus diakui, bahwa hubungan yang pernah terjalin pernah berlangssung lama. Bahkan hingga kini juga masih banyak kerabat keturunan Mataram yang akhirnya berbaur dan menjadi warga masyarakat Kabupaten Madiun.

                Bahkan sebuah peristiwa yang amat bermakna pernah terjadi di tahun 2003. Pada tahun itu Pakoe Buwono XII, Raja Surakarta, berkenan hadir mengunjungi Pemerintah Kabupaten Madiun. Sang Raja merasa tertarik dan menyenmpatkan untuk pertama kalinya bertandang ke Pendopo Kabupaten Madiun. Ketertarikan itu dikarenakan, ternyata Pemerintah Kabupaten Madiun tetap konsisten dalam menjaga atau “nguri-nguri” aset budaya dalam agenda Pameran Pusaka setiap memperingati hari jadi Kabupaten Madiun.

                Kedatangan Raja Surakarta ini ternyata tidak berhenti begitu saja. Kesan yang mendalam atas keramahan dan usaha menjaga tradisi Mataram di Kabupaten Madiun, membuat Pakoe Buwono mengundang Bupati Djunaedi Mahendra untuk hadir ke keraton Surakarta. Undang itu sebagai wujud terimakasih dan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Madiun.

                Pada tahun 2005 tradisi jamasan, yakni pencucian benda pusaka, seperrti keris, tombak dan sebagainya pada setiap bulan Surra dikembangkan dalam acara “ Kirap Pusaka”.

                Kini, meski Raja Pakoe Buwono XII telah mangkat, tetapi kekerabatan masyarakat yang tercermin pada kesamaan sistem sosial kebudayaan jawa tetap terjaga lestari.

 

MADIUN, MENUJU AGROPOLITAN

                Topografi Kabupaten Madiun yang tidak merata menjadikan daerah tersebut seakan terbagi menjadi dua, yakni utara dan selatan. Wilayah utara bertekstur lebih rendah dan potensial untuk tanaman padi seperti Kecamatan Jiwan dan Balerejo. Sementara selatan memiliki tekstur lebih tinggi dan didominasi oleh tanaman hortikultura seperti cabe, tomat, mangga meliputi Kecamatan Dagangan, Dolopo, Kebonsari.

                Dari tahun ke tahun penyangga utama perekonomian bertumpu pada tanaman bahan pangan yaitu padi. Besarnya produksi padi menjadikan daerah ini lumbung pangan Jawa Timur wilayah barat selain Ngawi, Bojonegoro dan Ponorogo. Selama lima tahun (1997-2001) produksi padi Kabupaten Madiu rata-rata 324.598 ton. Jumlah ini lebih dari cukup dalam memenuhi kebutuhan beras lokal 85.405 ton tahun 2002. Beras yang berlimpah ini sebagian didistribusikan ke Kalimantan, Bali, Banyuwangi, Jember dan Karesidenan Kediri.

                Hasil bumi Kabupaten Madiun, khususnya tanaman pangan selama ini cukup melimpah. Kerja keras yang dilakukan warga bukan hanya cukup menghidupi dirinya, tetapi sangat potensial untuk didistribusikan ke daerah lain. Potensi ini terus dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi modern.