SEKILAS INFO

     » MADIUN GEMAR MEMBACA DAN TERTIB ARSIP 2018      » SEGALA BENTUK LAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN MADIUN GRATIS      » SELANGKAH KE PERPUSTAKAAN SEJUTA PENGETAHUAN      » SELAMAT DATANG DI WEBSITE KANTOR PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN MADIUN
Madiun Tempo Dulu
Tanggal Posting: 14 Januari 2015

JEJAK KISAH SANG PENDAHULU

(Dari Buku Menelusuri Jejak Masa Lalu-Bagian Pertama)

 

AIR SEBAGAI PUSAT PERADABAN

                Sejarah kabupaten Madiun saat ini tidak terlepas dari sejarah panjang masa kerajaan – karajaan yang pernah berdiri di pulau jawa pada masa silam. Jauh sebelumnya , menurut catatan dukumen Dr. L.  Adam ( yang pernah  menjadi residen di madiun ) , sampai abad ki 16 wilayah kabupaten  Madiun dan sekitarnya berupa rawa- rawa dan hutan belantara.

                Diapit oleh dua gunung , yakni wilis dan lawu , kawasan ini tergolong daerah yang subur . seperti halnya perkembangan peradapan manusia di bumi , sumber air menjadi pusat kehidupan manusia. Maka tidak mengherankan, manakala kawasan bengawan Madiun yang merupakan aliran air dan pertemuan daratan lereng wilis dan lawu, menjadi pusat pertemuan aktivitas manusia.

                Secara alami, manusia di bumi tidak bisa lepas dari aior. Itulah  mengapa, pusat- pusat peradapan manusia cenderung berdekatan dengan air, baik aliran air maupun sumber air. Dan di sekitar bengawan atau sungai besar Madiun itulah situs- situs Kabupaten Madiu dapat di telusuri.

                Berdasar sifat alami manusia yang tinggal di bumi, maka benar kiranya jika asal muasal kehidupan Kabupaten Madiun terkonsentrasi di kawasan yan berdekatan sungai besar, dalam hal ini sungai Madiun. Logika semacam itu sangat masuk akal , karenaaliran sungai pada masa- masa lalu senantioasa menjadi prasarana tranportasi yang yang memhubungkan satu wilayah dengan wilayah lain.

                Penggalian- penggalian yang dilakukan tahun 1937 di utara sungai catur ( demangan) menunjukan Adanya sitis- situs mpeninggalan yang mengindikasiokan bahwa kawasan ini merupakan pusatperadapan manusia yang memdiami kawasan tersebut( Madiun) . Demikian juga, adanya makam dan sumber air yang berada di desa kuncen meyakinkan bahwa di kawasan tersebut telah berlangsung aktivitas manusia sejak lama .

                Akan halnya pendopo Kabupaten Madiun yang sekarang berada di kelurahan pangonnganngan , juga tidak lepas dari pusat- pusat kawasan aliran air dan sumber air. Legenda yang berkembang menuturkan bahwa di belakang arah timur laut pendopo  Kabupaten Madiun sekarang ini , dulunya terdapat sendang bernama sumber umis atau sendang Gayam. Sendang itu dahulu pernah di keramatkan , karena konon airnya memiliki khasiat yang dapat menyembuhkan orang sakit .

                Fenomena yang sama juga terjadi di desa klajang ( pinggir sungai Madiun) , dim,ana terdapat sebuah makam dengan panjang 12 meter. Di de4sa itu , menurut  cerita rakyat, disemayamkan Raden  Rangga  Wijaya , putra raja pajangt. Begitu pula, keberadaan Kyai Rekso Gati yang menjadi utusan  Demak di sogaten menunjukan bahwa air  ( sungai) menjadi pusat aktivitas sosial manusia . Sogaten sendiri lokasinya sangat berdekatan dengan bengawan  Madiun.

 

Peninggalan – peninggalan kuno  memang bisa menjadi petunjuk jejak sejarah masa lalu. Sekalipun dokumen tertilis  tentang asal muasal  Kabupaten Madiun sangat terbatas , tetapi  kita bisa merunutnya dari jejak peninggalan yang ada.

Tulisan ini mencoba m,emaparkan sejarah kabupaten Madiun  dalam masa- masa yang bisa di telusuri lewat dokumen , dan juga memaparkan pandangan kehidupan manusianya berdasarkan jejak fisik yang ditinggalkanya.

 

JEJAK MASA  LALU

TEMUAN PENTING DI KAWASAN MADIUN

                Masa lalu adalah bagian dari masa kini . Kerena tidak ada masa kini, tanpa melalui masa – masa yang lalu . Akan halnya yangterjadidi masa kinipun , akan menjadi bagian dari masa mendatang Masa lalu, sebagai sebuah sejarah layak ditelusuri , karena dari situlah perkembangan peradaban dan sekaligus bisa memetik  pengetahuan.

                Menelusuri  jejak masa lalu, apalagi ribuan tahun yang lalu tentu  saja bukanlah pekerjaan yang mudah.  Perubahan  alam  dan waktu acapkali menyirnakan  dokumen-dokumen yang semestinya menjadi  rujukan melihat masa silam. Apalagi keterbatasan teknologi  di masa lalu membuat kita kesulitan memaknai peristiwa di massa silam.

                Jejak sejarah Madiun di masa lalu harus pula dipahami dengan konteks waktu kala itu. Untuk menggambarkan wilayah yang kemudian bernama Madiun, kita dapat merujuk pada sumber data yang tersedia. Ada 3 (tiga) sumber rujukan yang dipakai dalam penelusuran sejarah kabupaten Madiun , masa lalu, yakni dari dongeng rakyat/  falklore, prasasti/dokumen, dan benda-benda purbakala.

DONGENG RAKYAT

                Dongeng rakyat merupakan karya budaya manusia yang semula (dahulu) berwujud sastra lisan dituturkan oleh penciptanya kepada masyarakat di sekitarnya. Cerita itu selanjutnya diteruskan turun –temurun berkesinambungan dari satu generasi kepada generasi penerusnya. Karena pada masa lalu belum ada teknologi dokumentasi yang memadai, maka cerita itu boleh jadi berubah-ubah terpengaruh ingatan subyektif pembawa cerita . oleh karena itu dapat dimengerti manakala timbul beberapa versi berbeda dongeng tentang hal yang sama.

                Dongen Rakyat mengandung arti pendidikan (pedagogis) yang luas lagi mendalam bagi pembentukan watak serta perilaku. Karena Dongeg Rakyat tidak didukung oleh fakta, maka kebenaran sejarah dari padanya tidak dapat sepenuhnya diharapkan, melainkan sekedar petunjuk yang serba terbatas menurut kadar yang ada sebagai hasil penganalisaan sejauh hal tersebut dikuatkan oleh data-data sejarah dan kebenarannya dapat diyakini.

PRASASTI

                Sebagai penanda  ( tetengger) dan termasuk salah satu benda peninggalan purbakala, lazimnya prasasti berupa karya tulisan yang tepahat pada batu , logam, kulit binatang dan atau bahan –bahan lain. Bahasa dan huruf yang dipergunakan untuk menulis prasasti, merupakan bahasa dan huruf yang dipakai pada jaman prasasti itu dibuat.

                Di  kabupaten madiun , terdsapat banyak prasasti atau peninggalan kuna. Prasasti itu sangat membantu bafi generasi  sekarang untuk menelusur jejak sejarah masa sailam . Karena dari prasasti itu biasanya terdapat informasi tentang peristiwa dan tokoh- tokoh masa silam.

Prasasti Mruwak

                 Prasasti ini ditemukan  di desa mruak . letaknya di kecamatan Dagangan , kaki bukit gunung wilis. Prasasti tersebut  ditemukan oleh  mahasiswa jurusan sejarah IKIP  di Madiun pada waktu mengadakan kuliah kerja  lokal bulan juli tahun 1975 di bawah dosen  pembimbing Drs. Koesdim heroekoentjoro dan Drs. Arief soekawinoto . Di dalam inventarisasi  yang dilakukan oleh dinas  purbakala pemerintah Hindia Belanda, tidak tercantum prasati tersebut.

                Melalui studi komparatif huruf kawi dalam perkembangan abad dapat ditarik kesimpulan bahwa prasasti Mruakpaling cepat dibuat pada akhir abad X . bersama dengan kejadian bersamaan dengan kejadian historis dilakukanyan pemindahan pusat kerajaan  dari jawa tengah kejawa tumur . kedudukan  mula pertama di wilayah kabupaten Madiun sebelah  selatan sebelum kemudian lebih lanjut dipindahkan ke daerah aliran sungai  brantas atas dasar pertimbangan yang mencakup segi –segi politik, ekonomi, sosial dan budaya .

Prasasti Sendang Kamal

                Sendang kamal adalah nama desa yang termasuk wilayah Kecamatan Maospati kabupaten Magetan lebih kurang 11 Km  di sebelah barat kota  Madiun . Di pinggir desa itu terdapat se4ndang sumber air yang di benahi menjadi kolam pemandian tapi sekarang keadan tidak terawat lagi. Di sana di halaman kolam sebelah selatan terdapat sebuah batu prasasti .

                Prasasti itu di keluarkan pada tahun 991 atas perintah prabhu shri maharaja teguh dharmawangsa anantawikrattunggadewa yang memerintah kerajaan medang lebih kurang tahun 987- 1017 . Adapun isi prasasti tersebut merupakan kutipan dari kitap shiwasana , suatu kitap undang- undang hukum yang mengatur  kehidupan kenegaraan dan masyarakat menurut pandangan ajaran hindhu shiwaisme .  diperingatkan kepada manusia agar selalu taat  setia melakukan kewajipanya “ tri dharma  bhakti “, berbakti kepada shiwa  mahadewa,   negara dan pemerintah serta masyarakat termsuk kebaktian untuk keluarga. Ditambahkan agar sumber air yang terdapat di situ sebagai lambang kehidupan dipelihara untuk dapat didayagunakan sebaik-baiknya bagi usaha mencaiptakan kemakmuran serta kesejahteraan. Prasasti ditutup dengan suatu harapan agar selalu dijunjung tinggi maksud atau isi yang diundangkan sebagai perintah raja.

                Orientasi pemerintahan Prabhu Darmawangsa selalu mengarah pada kepentingan rakyat, untuk menciptakan kehidupan makmur sejahtera yang adil dan merata berdasarkan agama Hindu Shiwaisme melalui usaha terutama di bidang pertanian disamping meningkatkan pula usaha di bidang pelayaran dan perniagaan. Prabhu Dharmawangsa menyadari betapa pentingnya masalah air bagi usah bercocok tanam yang tidak kurang dari 90% penduduk hidup dari usaha tersebut. Karena itu wajar apabila selalu menaruh perhatian pada sumber air dan memrintahkan pengaturan sebaik-baiknya dala memanfaatkan, di samping membuat saluran-saluran baru dalam rangka usaha memnuhi kebutuhan irigasi.

                Temapt pemukiman penduduk yang sering ditimpa banjir pada waktu musim penghujan akibat luapan Sungai Brantas mendapat perhatian secara serius. Usaha penanggulangan dilakukan denga jalan menanggul membuat dinding bagian tepian sungai yang rawan serta memukimkan kembali sebagian penduduk di tempat baru.

                Dari keterangan itu jelas bahwa daerah Madiun pada masa pemerintahan Prabhu Shri Maharaja Teguh Dharmawangsa Anantawikramottunggadewa merupakan bagian dari kesatuan wilayah kerajan yang sangat potensial di dalam segi geopolitik dan strategi pembinaan keutuhan wilayah serta ketahanan keamanan kerajaan.

Prasasti Bibrik

                Bibrik suatu desa termasuk wilayah Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun, terletak di sebelah barat laut lebih kurang 10 km dari Kota Madiun. Sebuah prasasti diketemulan di sana tergeletak di dalam kebun seseorang penduduk desa dalam keadaan tidak terpelihara. Disebut Prasasti Bibrik berdasar pertimbangan oleh karena terletak di desa tersebut seperti halnya prasasti yang diuraikan terdahulu disebut menurut nama desa tempat diketemukan. Dengan demikian nama tersebut lahir bukan dari kata-kata yang terdapat dalam prasasti dan bersifat sementara.

                Keadaan huruf sangat rusak, hampir sepenuhnya tidak dapat dikenal kembali. Beradasarkan tipebatu terutama teknis corak pahat setelah membandingkan segala sesuatunya denga yang terdapat di lereng Gunung Lawu ada petunjuk untuk menduga bahwa prasasti tersebut agaknya dibuat pada tahun-tahun akhir abad XV dan awal abad XVI masa keruntuhan Kerajaan Majapahit.

                Faktor tenaga manusia yang dimiliki daerah Madiun ternyata cukup besar sebagai sarana utama dalam kaitannya dengan semua bidang usaha untuk tetap menjamin tegaknya kerajaan terus menerus. Oleh karena itu sampai masa akhir pemerintahan Majapahit daerah Madiun dipandang perlu untuk tetap dipertahankan dalam sisa kerajaan. Diduga latar belakang demikian itulah yang mendorong raja Majapahit memerintahkan pembuatan Prasasti Bibrik. Bagaimanapun juga prasasti tersebut belum dapat dipecahkan secara epigrafis dan selama itu pila akan merupakan kegelapan yang menarik perhatian.

Prasasti Klagen Serut

                Disebut demikian oleh karena prasasti tersebut terdapat di Desa Klagen Serut termasuk wilayah Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun, lebih kurang 6 km di sebelah barat laut Kota Madiun.

                Keadaan fisik dapat dikatakan sama benar dengan Prasasti Bibrik, bersifat bhimuka yaitu kedua bidang bagian muka dan belakang tempat menuliskan kalimat-kalimat. Lebih jauh dapat lagi diaktakan bahwa Prasasti Klagen Serut dan Prasasti Bibrik Kembar Dua. Oleh sebab itu dapat diduga berasal dari penguasa yang sama dari Kerajaan Majapahit menjelang keruntuhan. Diduga isinya berupa penegasan kembali tentang kekuasaan raja atas daerah itu dalam hubungannya dengan pengaruh agama dan kuasa baru Islam yang terus berkembang meluas yang berpusat di Demak.

                Seperti halnya Prasasti Bibrik, Prasasti Klagen Serut, huruf-hurufnya sudah rusak benar sehingga sulit untuk dapat dibaca kembali. Keadaan demikian merupakan pokok hambatan untuk dapat dipecahkannya isi serta makna secara jelas dan selama itu pula akan tetap merupakan tantangan bagi ahli epigrafi.

BENDA-BENDA PURBAKALA

                Dari masa sebelum merdeka, telah dilakukan inventarisasi benda-benda purbakala di wilayah Kabupaten Madiun. Laporan hasil penemuan tersebut tercatat secara rapi dan diberi nomor kode untuk memudahkan pengarsipan.

                Dalam laporan No. Kode 1399 Madioen (Verbeek No 405) disebutkan bahwa banyak peninggalan berupa arca dan sejumlah “lumbung” dari batu dengan tulisan pendek dalam huruf Kawi. Sebagian besar benda-benda tersebut tersimpan di Museum Batavia (Jakarta).

                Berikut catatan benda purbakala yang terdokumentasi yang ditemukan di wilayah Kabupaten Madiun:

  • 1400 Nambangan Kidoel

Ditemukan dua buah genta kuningan dari dalam tanah. Dari kampung ini ditemukan pula sebuah bak air perunggu untuk ritual yaitu acara keagamaan.

Dua genta perunggu berbentuk binatang dan sebuah kapak besi (ijzeren houweel) yang semua itu tersimpan di Madiun Batavia.

Sebuah lumbung dan sebuah Yoni indah yang dahulu ditemukan disini telah hilang.

  • 1401 Ara-Ara Amba

Di rumah Tuang P. Slot terdapat sebuah patung Trimurti, patung kepala dewa serta suatu balok batu berkepala manusia.

  • 1402 Tjaroeban

Periuk terbua dari perunggu sekarang tersimpan di Museum Batavia.

  • 1403 Djatisari

Di dekat rumah Administratur sitemukan relief berukuran tinggi kecil dan ciut yang menggambarkan sesuatu “ nagi” dan seorang ibu yang sedang mandi, keduanya berasal dari Blitar.

  • 1404 Ngadi Reja

Sebuah batu oval panjang bertumpu pada dua tumpuan, dengan bidang atas yang halus tanpa inscripsi, ornamen maupun lambang; di dekatnya terdapat dua susunan batu berlepa yang sebagian telah tertutup oleh tumbuhan (tipe Majapahit)

  • 1405 Kahoeman

Dukuh Watu Dukun, nama ini berasal dari batu kali berukuran 1,5 meter persegi, didekatnya berdiri sebuah Patung Perempuan.

  • 1406 Oeteran

(Verbeek No. 406)

Di daerah Kawedanan, dulu berdiri sebuah patung Durga berangka tahun 1338 Caka dan sebuah lumbung berangka 249, keduanya berasal dari kampung Gelang. Patung Durga sekarang ini berdiri di dekat pesanggerahan Telaga Ngebel dan lumbung tersimpan di Museum Batavia.

  • 1407 Sareng

Sebuah cincin emas diketemukan di dalam got sawah.

  • 1408 Daha

Bekas-bekas dari istana kuna telah dilaporkan oleh Hoepermans terletak di Desa Gelang, akan tetapi sekarang telah lenyap. Memang di sini dan di sekitarnya ditemukan batu-batu Majapahit, sebagai bahan penyelesaian makam Islam pada suatu tempat, yang oleh penduduk setempat dikenal dengan nama Setana Gedong.

Di gereja Jawa di sana dulu ada sebuah Yoni yang indah, tetapi sekarang telah hilang. Di sini juga terdapat Patung Durga yang berangka tahun 1338 Caka dan sebuah lumbung berangka 249 (lihat No. 1406)

  • 1409 Glonggong

(Verbeer no. 408 en 409)

Ditemukan sebuah cincin emas di dalam tanah, sekarang di simpan di Museum Ethnographisch Leiden. Di desa Ngoemboel ditemukan sumber air panas yang mengandung belerang dan  didekatnya terdapat patung kecil dalam bentuk relief tinggi dengan sepasang nandi di kanan kiri. Di kampung Waroedjereng ditemukan sumur berbentuk bundar, dinding bagian dalam dibuat dari batu bata Majapahit. Apakah ini berasal dari sumber Hindoe, masih belum dapat dipastikan. Di dekatnya ditemukan suatu alas yang telah rusak. Suatu tempat air dari batu berangka tahun 1320 Caka dan sebuah Yoni yang dulu ditemukan di desa ini sekarang smua telah lenyap.

  • 1410 Plemgoereh

Zie de noot by No. 1408

  • 1411 Nglambangan

Ditemukan sebuah lumbung yang rusak sekali dan suatu kubur yang dinding-dindingnya dibuat dari batu bata Majapahit.

Di sini ditemukan juga benda-benda terbuat dari emas, kuningan dan besi.

  • 1412 Tawang Redjo

Menurut penjelasan penduduk setempat, di sebelah barat laut Dukuh Oekiran  di pinggir hutan ditemukan patung Ganesha.

  • 1413 Woengoe

Di Desa Doengoes ditemukan dua arca pria polynesia, sebuah patung wanita, dua buah Ganesha, sesosok raksasa dan suatu karya patung menggambarkan seorang pria dan wanita serta patung laki-laki dengan tempat air terbuat dari batu.

  • 1414 Kedondong

Di Desa Watu Lesung terdapat patung Dwarapala, sebuah Yoni dan dua buah Ganesha yang sudah rusak sekali.

  • 1415 Grandekan

Di Desa Boetan ditemukan sebuah patung Ciwa Trimurti dan dua buah Ganesha.

  • 1416 Koentjen

Dekat Desa Koentjen dan Djosenan, pada suatu tempat yang oleh penduduk disebut “Batu Gilang” ditemukan dua buah batu berpahat.

  • 1417 Moenggoet

Dua buah patung dari logam ditemukan di suatu sawah desa tersebut.

  • 1418 Gemarang

Beberapa benda terbuat dari emas ditemukan dari dalam tanah, diantaranya sebuah anting-anting telinga yang sekarang tersimpan di Museum Batavia (Jakarta).

  • 1419 Kresek

Dua buah gelang logam (bukanberasal dari zaman Hindoe) ditemukan di desa ini dan sekarang tersimpan di Museum Batavia (Jakarta).

 

Perabot Upacara Dagangan

Dua belas tahun yang lalu di suatu desa wilayah Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun, lebih kurang 12 km ke arah tenggara dari Kota Madiun, oleh penduduk setempat secara tidak disengaja dalam menggali tanah untuk keperluan fondasi suatu bangunan ditemukan berbagai benda tersimpan di dalam belanga logam perunggu, berjumlah tidak kurang dari 13 potong.

                Benda-benda itu terdiri dari beberapa buah pinggan keramik sedikit ceper, dua talam sirkel besar dan kecil terbuat dari perunggu, sebuah belancong perunggu, pinggan gondok perunggu menyerupai vas serta sepasang kaki sandaran dari perunggu juga. Semua benda itu yang semula di simpan di Kantor Kecamatan Dagangan sekarang telah dipindahkan ke Museum Tantular di Surabaya.

 

Blencong Perunggu

                Blencong adalah lampu yang mempunyai bentuk dan penggunaan tersendiri. Pada Belncong ini terdapat bagian berornamenkan burung dan ikan dalam bentuk setilasi yang menunjukkan suatu produk mengandung nilai seni yang tinggo. Keseluruhan bentuk sangat ideal. Pada tabung minyak bermotif ikan disetilir sehingga dari ujung sayap burung diikatkan pada tiga utas tali penggantung yang ujung-ujungnya bertemu pada suatu gagang penggantung. Hiasan burung realistis terdapat pada gagang penggantung dalam posisi bertengger sehingga nampak serasi benar. Ditinjau dari segi filsafat kehidupan yang rapat hubungannya dengan kepercayaan maka sekaligus blencong tersebut menggambarkan tiga dunia:

Dunia atas           : dilambangkan dengan burung

Dunia tengah     : dilambangkan dengan nyala blencong dan

Dunia bawah      : dilambangkan dengan ikan

 

Batu Yoni Nglandung dan Mawatsari     

                Nglandung adalah sebuah desa termasuk wilayah Kecamatan Geger Kabupaten Madiun, Lebih kurang 12 km arah selatan dari Kota Madiun. Di sana di tengah sawah ditemukan dua buah yoni terpendam di dalam tanah hanya sebagian yang kelihatan. Dari keadaan demikian tidak dapat diketahui lebih lanjut bagian-bagiannya terutama yang menyangkut ada atau tidak adanya motif hias yang dipahatkan.

                Di Mawatsari, sebuah desa wilayah Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun, lebih kurang 14 km di arah tenggara dari Kota Madiun ditemukan yoni. Berbeda dengan dua buah Yoni Nglandung yang masih tertanam di sawah, Yoni Mawatsari tersimpan di rumah seorang pamong desa terawat dalam keadaan sangat baik. Yoni Mawatsari masih utuh lengkap dengan segala bagian-bagiannya.

                Bagian utama badan, lubang tempat menegakkan lingga dan tirtaupana saluran kecil jalan mengalir air keluar setelah disiramkan pada lingga dalam waktu upacara. Diketahui bahwa lingga pada Yoni Mawatsari tidak berhasil ditemukan kembali.

                Yoni dan lingga merupakan dwitunggal sebagaimana biasanya diletakkan di dalam bilik candi yang bercorak Shiwaistis. Dua yoni Nglandung nampaknya tidak berlingga lagi, karena lingga yang lebih kecil dan ringan daripada yoni memungkinkan mudah diangkat untuk dipindah-pindah bahkan dirusak oleh tangan manusia yang kurang mengerti akan nilai dan arti benda peninggalan purbakala.

 

 Patung Shri Klagenserut, Jiwan.

                Klagenserut adalah sebuah desa termasuk wilayah Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Di sana disamping ditemukan sebuah prasasti batu yang telah diuraikan dimuka ditemukan pula sebuah patung batu. Drs. Koesdim Heroekoentjoro dan Drs. Arief Soekowinoto yang meneliti patung tersebut mempunyai pendapat yang sama, bahwa itu adalah patung Shri atau Lakshmi isteri Dewa Wishnu. Ia dianggap sebagai Dewi kemuliaan, kesejahteraan, cahaya dan keuntungan. Khususnya di Jawa terkenal Dewi Shri sebagai Dewi Kemakmuran yang erat dihubungkan rapat dengan padi.

                Patung ini semula ditempatkan pada suatu kolam pemandian berfungsi sebagai pancurn, setelah air masuk melalui bagian belakang, memancur keluar lewat kedua buah dada. Hal demikian terdapat pula pada Candi tikus di Trowulan sekarang ini. Oleh sebab itu dapat di duga bahwa patung Klangenserut dibuat pada zaman Kerajaan Majapahit pada abad XIV, masa “Paks Majapahitica”, suatu masa puncak keamanan, kesejahteraan, kemakmuran dis eluruh wilayah Kerajaan Majapahit. Kehidupan aman, makmur lagi sejahtera merupakan pra kondisi untuk menunjang pembangunan candi, kolam pemandian, patung-patung, relief candi, makam serta pengembangan bangunan istana dan lain sebagainya.